Hari Santri dan Kiat Belajar Berkesenian

0
48

Tremas- Gelaran akbar Grebeg Santri Nusantara 2018 dalam rangka peringatan Hari Santri Nasional sukses menghibur ribuan santri di halaman masjid Pondok Tremas Pacitan, Ahad (21/10) malam.

Pentas kesenian dan kebudayaan santri ini menjadi acara yang termegah yang pernah digelar santri Pondok Tremas sejak Presiden Jokowi menetapkan tanggal 22 Oktober sebagai hari Santri Nasional pada tahun 2015 lalu.

Berbagai penampilan terbaik disuguhkan di atas panggung utama, mulai penampilan TK Attarmasi, grup Hubbunnabi, jamaah pengajian seni Sanggar Jubah pesantren Al fattah Kikil, orkes gambus Aiwah, seni musik kontemporer Sanggar jagrak Pacitan, musikalisasi puisi, hingga kolaborasi seni akbar kiai-santri.

Kemeriahan acara Grebeg Santri Nusantara 2018 cukup menarik perhatian ribuan pasang mata, baik yang hadir langsung di Pondok Tremas maupun para penghuni jagad maya yang menyaksikan melalui siaran langsung di kanal youtobe maupun di akun media sosial milik Pondok Tremas, facebook Attarmasi Ma’had Aly dan di instagram @tremas_1830.

Salah satu seniman Pacitan, Johan Perwiranto, atau biasa disapa Pak Johan turut mengapresiasi digelarnya acara itu. Ia mengaku bangga karena telah diberi kesempatan oleh keluarga besar Pondok Tremas untuk tampil di tengah para santri melalui musik kontemporer yang ia tekuni.

“ Musik, (apalagi) yang santai-santai sangat berpengaruh pada kejiwaan seseorang,” katanya saat ditemui tim redaksi Soko Pena.

Ia berharap, para santri tidak hanya pandai dalam mengaji ilmu agama, tapi juga harus melengkapi dirinya dengan berkesenian. “Khususnya seni musik, untuk sarana dakwah agar lebih menarik,” tutur pria kelahiran 27 September 1966 itu.

Selain itu, para santri harus memilki pandangan yang luas terhadap segala jenis musik. Dan yang paling penting, menurutnya, bermusik adalah suatu kemauan. “Sedangkan bakat tergantung kita yang mengolahnya,” ucapnya.

Pak Johan sendiri telah menekuni dunia seni sejak ia duduk di bangku SD. Darah berkesenianya mengalir dari keluarganya. Ia lalu menekuni dunia seni, utamanya seni musik pada tahun 1988 dan ia berhasil mendirikan sanggar Jagrag pada tahun 90an.

“Saya bergelut dengan musik sudah hampir 35 tahun,” ungkapnya.

Berkat kepiawaianya dalam bermusik, utamanya musik kontemporer, ia berkesempatan keliling ke beberapa negara untuk melalukan pentas musik disana. Apalagi grup musiknya merupakan salah satu grup musik yang sangat unik. (M Maksum-Fathul Munir)