Pondok Tremas Pacitan

3
2302

BABAT TREMAS

Sebelum kita membicarakan tentang Pondok Tremas secara khusus, ada baiknya kalau kita mengenal daerah Pacitan dan perkembangan agamanya, sebab hal itu sangat erat hubungannya dengan berdirinya Pondok Tremas.

Pada abad ke XV M, bumi nusantara ini berada di bawah naungan kerajaan Majapahit, dan seluruh masyarakatnya masih memeluk agama Hindu atau Budha. Begitu juga dengan daerah Wengker Selatan atau juga disebut Pesisir Selatan (Pacitan) yang pada waktu itu masih dikuasai seorang sakti beragama Hindu yang bernama Ki Ageng Buwana Keling, yang dikenal dengan cikal bakal Pacitan.

Menurut silsilah, asal-usul Ki Ageng Buwana Keling adalah putra Pajajaran yang dikawinkan dengan salah satu putri Brawijaya V yang bernama Putri Togati. Setelah menjadi menantu Majapahit maka Ki Ageng Buwana Keling mendapat hadiah tanah di pesisir Selatan dan diharuskan tunduk dibawah kekuasaan Majapahit. Ki Ageng Buwana Keling berputra tunggal bernama Raden Purbengkara yang setelah tua bernama Ki Ageng Buwana Keling.

Kegoncangan masyarakat Ki Ageng Buwana Keling di Pesisir Selatan terjadi setelah datangnya Mubaligh Islam dari kerajaan Demak Bintara yang dipimpin oleh Ki Ageng Petung (Raden Joko Deleg/              Ki Geseng), Ki Ageng Posong (Raden Joko Puring Mas/ Ki Ampok Boyo) dan sahabat mereka Syeh Maulana Maghribi yang meminta Ki Ageng Buwana Keling beserta semua rakyat di Wengker Selatan untuk mengikuti dan memeluk agama Islam.

Namun setelah Ki Ageng Buwana Keling menolak dengan keras dan tetap tidak menganut agama baru yaitu agama Islam, maka tanpa dapat dikendalikan lagi terjadilah peperangan antara kedua belah pihak. Peperangan antara penganut agama Hindu ysng dipimpin oleh Ki Ageng Buwana Keling dengan penganut agama Islam yang dipimpin oleh             Ki Ageng Petung, Ki Ageng posong, dan Syeh Maulana Maghribi memakan waktu yang cukup lama, karena kedua belah pihak terdiri dari orang-orang sakti. Namun akhirnya dengan keuletan dan kepandaian serta kesaktian para mubaligh tersebut, peperangan itu dapat dimenangkan oleh Ki Ageng Petung dan pengikut-pengikutnya setelah dibantu oleh prajurit dari Adipati Ponorogo yang pada waktu itu bernama Raden Batoro Katong (Putra Brawijaya V).

Mulai saat itulah maka daerah Wengker Selatan atau Pacitan dapat dikuasai oleh Ki Ageng Petung, Ki Ageng Posong dan Syeh Maulana Maghribi, sehingga dengan mudah dapat menyiarkan agama Islam secara menyeluruh kepada rakyat hingga wafatnya dan dimakamkam di daerah Pacitan.

Demikianlah dari tahun ke tahun sampai Bupati Jagakarya I berkuasa (tahun 1826), perkembangan agama Islam di Pacitan Berkembang dengan pesat, bahkan tiga tahun kemudian putra dari Demang Semanten yang bernama Bagus Darso kembali dari perantauannya mencari dan mendalami agama Islam di Pondok Pesantren Tegalsari di Ponorogo di bawah asuhan Kyai Hasan Besari. Sekembalinya beliau dari Pondok tersebut, di bawah bimbingan ayahandanya Raden Ngabei Dipomenggolo, beliau mendirikan Pondok di desa Semanten. Namun setelah kurang lebih satu tahun, beliau memutuskan untuk memindahkannya ke daerah desa Tremas.

Bagus Darso setelah dewasa mempunya nama lain KH. Abdul Manan. Sejak kecil beliau sudah terkenal cerdas dan sangat tertarik terhadap masalah keagamaan. Dalam masa remaja beliau dikirim oleh ayahnya         ke Pondok Pesantren Tegalsari Ponorogo. Selama di sana, beliau selalu belajar dengan rajin dan tekun. Karena ketekunan, kerajinan dan kecerdasan yang dibawanya sejak kecil, maka kepandaian Bagus Darso dalam menguasai dan memahami ilmu yang di pelajarinya melebihi kawan-kawanya. Setelah Bagus Darso merasa cukup ilmu yang beliau peroleh di Pondok Pesantren Tegalsari Ponorogo, akhirnya beliau kembali ke desa Semanten. Di Desa semanten inilah beliau kemudian menyelenggarakan pengajian yang sudah barang tentu bermula sangat sederhana. Karena semenjak di Pondok Tegalsari beliau di kenal sebagai seorang yang tinggi ilmunya, maka banyaklah orang pacitan yang mengaji pada beliau.

Dari sinilah kemudian di sekitar masjid didirikan Pondok untuk para santri yang datang dari jauh. Namun beberapa waktu kemudian Pondok tersebut pindah ke Desa Tremas setelah oleh ayahnya beliau dikawinkan dengan putri Demang Tremas Raden Ngabei Honggowijoyo. Sedangkan Raden Ngabei Ronggowijoyo itu sendiri adalah kakak kandung Raden Ngabei Dipomenggolo. Di antara faktor-faktor yang menjadi penyebab perpindahan Kyai Abdul manan dari Semanten ke Desa Tremas, yang paling pokok adalah pertimbangan kekeluargaan yang dianggap lebih baik beliau pindah ke Tremas. Pertimbangan tersebut adalah karena mertua dan istri beliau menyediakan daerah yang jauh dari keramaian dan pusat pemerintahan, sehingga merupakan daerah yang sangat cocok bagi para santri yang ingin belajar dan memperdalam ilmu agama.

Berdasarkan pertimbangan itulah maka kemudian beliau memutuskan pindah dari semanten ke Tremas dan mendirikan Pondok Pesantren yang kemudian dikenal dengan Perguruan Islam Pondok Tremas Pacitan hingga sekarang. Demikianlah sedikit sejarah berdirinya Pondok Tremas yang dipelopori oleh Kyai Abdul Manan pada tahun 1830 M.

Profil KH.Abdul Manan, Pendiri Pertama Pondok Tremas

Setelah membicarakan tentang sejarah singkat ddirikanya Pondok Tremas, alangkah baiknya kita lebih mengenal sosok pendiri Pertama Pondok Tremas Pacitan, KH. Abdul Manan Dipomenggolo. setelah hampir 200 tahun berlalu, terhitung sejak tahun 1850-an, pada tahun 2010 salah seorang santri Pondok Tremas yang kini melanjutkan studi di Kairo Mesir dan kini tinggal di mesir menemukan beberapa dokumen penting dari Kedutaan Besar RI di Mesir yang berhubungan dengan pendiri pertamanya yakni Simbah KH.Abdul Manan Dipomengolo. bahwa KH.Abdul Manan adalah salah satu generasi pertama orang indonesia yang pernah belajar di Universitas tertua di Dunia Universitas Al Azhar Kairo mesir pada sekitar tahun 1850an.

Berikut tulisan dan gambar tempat Simbah KH.Abdul Manan pernah menimba Ilmu di Al Azhar Kairo Mesir.

Dalam buku Jauh dimata Dekat dihati Potret Hubungan Indonesia – Mesir terbitan   KBRI Cairo 2010, di sebutkan bahwa komunitas pertama orang Indonesia di Mesir adalah KH.Abdul Manan Dipomenggolo Tremas, hal itu terbukti dengan adanya Ruwak ( hunian ) yang bernama Ruwak Jawi, di masjid Al-azhar, di masjid ini ada 4 Ruwak yang masih ada, Ruwak Jawi, Ruwak Atrak ( turki), Ruwak Syami (suria) dan Ruwak Maghorobah (Maroko), beliau di Mesir sekitar tahun 1850 M, selama di Mesir beliau bertemu dengan Grand Syeikh (Jabatan di atas Rektor) Ibrahim Al Bajuri, yaitu Grand Syeikh ke 19, jadi wajar saja kalau tahun1860 an di Indonesia sudah ditemukan kitab Fath al-Mubin syarah dari kitab Umm al-Barahin yang merupakan kitab karangan Grand Syeikh Ibrahim Bajuri. (keterangan ini di ambil pada buku karangan Martin Van Bruinessen, seorang Orientalis yang lahir di Schoonhoven, Utrecht,Belanda).

Berikut Gambar tempat dimana KH.Abdul Manan Dipomenggolo Pernah Tinggal Di Ruwak Jawi ( Asrama Jawa) didekat masjid Universitas Al Azhar Kairo Mesir

Masjidd-300x199
Akhmad Saufan, Alumni Dari Wonosobo Jateng

Masjid Al Azhar Kairo, Tempat KH.Abdul Manan pernah belajar ( Fhoto diambil Oleh Sdr. Akhmad Saufan, Alumni Dari Wonosobo Jateng )

Ruwak-jawi-300x199
Inilah tempat di mana Mbah Abdul Manan Tremas, pernah kuliah di Al-Azhar, beliau bertemu dengan Grand Syeikh Ke-19. Syeikh Ibrahim Al-Bajuri. tempat ini di namakan Ruwwak Jawi.

Ruwak-ii-300x199

Ruwak-turki-300x199

Ruwwak Maroko. sebelahnya persis dengan Ruwwak Jawwi. di dalam masjid Al-Azahar. Cairo.Mesir.

Buku-256x300
inilah Buku Jauh dimata Dekat dihati Potret Hubungan Indonesia – Mesir terbitan KBRI Cairo 2010, Nama KH.Abdul Manan Dipomenggolo tercatat dibuku ini dan merupakan dokumen Resmi Negara Indonesia-Mesir.

 

PENGASUH

Sejak didirikan peratam kali oleh KH.Abdul Manan Dipomenggolo. Pondok Tremas pacitan telah mengalami beberapa periode kepemimpinan, diantarnya :

1. KH. Abdul Manan (1830-1862)

 KH Abdul Mannan yang mempunyai nama kecil Raden Bagus Darso adalah putra dari Raden Ngabehi Dipomenggolo. Beliau adalah peletak batu pertama Pondok Tremas yang dirintis selepas studinya di Pondok Tegalsari Ponorogo di bawah asuhan KH Hasan Besari.
Selanjutnya beliau mendirikan pondok pesantren didesa Semanten (1 Km dari arah Utara Kota Pacitan). Manu demean pertimbangan kekeluargaan, jauh dari keramaian atau pusat pemerintahan, dan lebih kondusif bagi para santri dalam belajar maka akhirnya beliau mutasi ke daerah Tremas.

Dari nama desa Tremas inilah kemudian pondok ini masyhur dengan sebutan Pondok Tremas. Hingga akhirnya KH. Abdul Manan wafat pada hari Jum’at (minggu pertama) bulan Syawal 1282 H. dan dimakamkan di desa Semanten. Beliau meninggalkan tujuh orang putra, yang antara lain adalah KH. Abdullah

2. KH.Abdulloh (1862-1894)

Sepeninggal KH. Abdul Manan, maka pengasuh atau pimpinan digantikan oleh putranya yang bernama KH. Abdullah. Pada masa kecilnya beliau mendapatkan pelajaran dasar dari ayahnya sendiri di Pondok Tremas.
Setelah cukup dewasa KH. Abdullloh diajak oleh ayahnya pergi ke Makkah Al-Mukarromah untuk menunaikan ibadah haji, dan menetap di Makkah untuk menuntut ilmu. Setelah beberapa tahun di makkah beliau kembali ke Tremas lagi, dan membantu ayahnya mengajar di Pondok Tremas.
Pada periode ini mulai berdatangan beberapa santri yang berasal dari daerah lain, seperti Salatiga, Purworejo, Kediri dan lain-lain. Pada waktu itu baik jalan Pacitan-Ponorogo maupun Pacitan-Solo belum ada kendaraan, sehingga orang yang ingin memperdalam ilmu pengetahuan agama Islam ( mengaji ) ke Pondok Tremas harus berjalan kaki dengan melewati gunung-gunung dan hutan yang masih cukup lebat.
Dengan semakin banyaknya santri maka kebutuhan akan tempat tinggal semakin mendesak hingga akhirnya dibangun asrama baru untuk tempat tinggal mereka yang nantinya di masa KH. Dimyathi lebih dikenal dengan nama “ Pondok Wetan “. Dalam bidang pendidikan, pada masa KH. Abdullah ini juga mengalami perkembangan, hal itu disebabkan karena santri lama yang sudah menghkhatamkan kitab-kitab dasar berkeinginan untuk melanjutkan beberapa kitab yang lebih tinggi. Sedang santri lama yang dianggap cakap dilibatkan dalam membimbing santri baru.
Meskipun perkembangan pada masa KH. Abdullah ini tidak begitu mencolok bila dibandingkan dengan keadaan Pondok Tremas pada masa KH. Abdul Manan, namun sepanjang KH. Abdullah memimpin Pondok Tremas, beliau telah berhasil meletakkan suatu batu landasan sebagai pangkal berpijak kearah kemajuan dan kebesaran serta keharuman Pondok Tremas dikalangan pondok pesantren khususnya dan pendidikan Islam umumnya.
Keberhasilan KH. Abdullah dalam meletakkan batu landasan tersebut adalah keberhasilan beliau dalam mendidik putra-putranya sehingga menjadi ulama-ulama yang tidak saja menguasai kitab-kitab yang dibaca, tapi lebih daripada itu juga telah berhasil menyusun berbagai macam kitab yang kontributif bagi dunia ilmu pengetahuan Islam, seperti KH Mahfudz yang masyhur dengan sebutan “ Attarmasie “ yang memperoleh tempat tersendiri dalam dunia ilmu pengetahuan Islam di negara Arab.
Barangkali karena pengalaman KH. Abdullah dalam menuntut ilmu di Makkah, sehingga kemudian putra laki-lakinya semua dikirim ke Makkah untuk menuntut ilmu disana. Putra pertama yang dikirim ke Makkah bersamaan musim haji adalah Muhammad mahfudz. Setelah mukim disana beliau menuntut ilmu dengan tekun dibawah asuhan guru utamanya yaitu Syeikh Abu Bakar Syatha sehingga menjadi ulama besar yang mampu mendudukkan dirinya sebagai salah seorang pengajar di Masjidil Haram dan lebih masyhur dengan sebutan Muhammad Mahfudz Attarmasie.
Diantara karya-karya besar beliau yaitu :
1. Manhaj Dzawinnadlor Fi Syarhi Al-Fiyah Ilmu Atsar Lissuyuthi
2. Mauhibah Dzil Fadli Attarmasie
3. Nailul Ma’mul Bighoyatil Wushul

Pada waktu mengajar di Masjidil Haram, kebanyakan murid-muridnya berasal dari Jawa, antara lain saudara-saudaranya sendiri seperti KH. Dimyathi, K. Dahlan, K. Abdul Rozaq, terdapat juga tokoh-tokoh lain yang setelah pulang ke jawa kemudian menjadi ulama’ besar di daerahnya masing-masing, seperti KH. Hasyim Asy’ari dari Tebuireng Jombang, KH. Dahlan dari Watucongol Muntilan, Raden Mas Kumambang dari Surabaya dan lain sebagainya.

3. KH. Dimyathi Abdulloh (1894-1934)

KH Dimyathi bin KH Abdullah adalah adik kandung KH Mahfudz Attarmasie. Seiring kharisma KH Mahfudz Attarmasie dengan karya-karya monumentalnya dan kealiman dan kewibawaan KH Dimyathi maka Pada periode ini Pondok Tremas mengalami masa kebangkitan yang pertama sehingga dapat di kategorikan sebagai “Masa Keemasan I”. Karena pada periode ini banyak santri yang datang dari berbagai daerah untuk belajar di Pondok Tremas. Bahkan menurut data interview dari para senior bahwa kwantitas santri mencapai nominal 3.000-an
Dengan ketinggian ilmu dan spiritualnya, KH Dimyathi lebih dikenal dengan panggilan Mbah Guru” sehingga akhirnya Pondok Tremas lebih masyhur dengan sebutan “Perguruan Islam Pondok Tremas” yang mengandung pengertian sebagai tempat berguru dan tidak menggunakan istilah yang sering dipakai yakni Pondok Pesantren.
Perlu diketahui bahwa KH Dimyathi pernah mempunyai hubungan “Besan” dengan pendiri Nahdlotul Ulama’ yaitu KH Hasyim Asy’ari. Terbukti dengan menikahkan putra beliau yang bernama KH Haris Dimyathi dengan Ny Fatimah binti KH Hasyim Asy’ari, meskipun pernikahan tersebut tidak bertahan lama.
4. KH.Hamid Dimyathi (1934-1948)
Dengan adanya peristiwa “Affair Madiun” sebagai ekspresi kebiadaban PKI yang menimbulkan banyak korban, tak terkecuali KH Hamid Dimyathi sendiri pun menjadi salah satu korban kekejaman PKI maka pada periode ini mengalami fase kemunduran.
Sebagaimana yang telah diketahui bahwa KH Hamid Dimyathi terbunuh di daerah Jawa Tengah ketika dalam perjalanannya ke Jogja guna penyelamatan jiwanya dan konon atas anjuran Sri Sultan Hamengku Buwono IX.
Dengan kondisi yang tidak menentu ini, maka banyak santri yang lebih memilih pulang demi keselamatan jiwanya dibanding bertahan. Sehingga akhirnya Pondok Tremas mengalami masa kevakuman dalam beberapa tahun. Perlu diketahui bahwa vakum disini bukan berarti tidak ada aktivitas santri sama sekali namun hanya sebatas tidak ada figur yang dianggap sebagai Kyai.

5. KH.Habib Dimyathi (1948-1997)

Beliau dilahirkan pada tahun 1923 M. Pada masa kecilnya beliau belajar dasar-dasar pengetahuan agama Islam di Pondok Tremas sendiri. Dan kemudian melanjutkan ke Pondok Al Hidayah Lasem dibawah asuhan KH. Ma’sum. Setelah satu tahun lebih sedikit beliau belajar di pondok tersebut, kemudian kembali lagi ke Tremas. Pada tahun 1937 beliau melanjutkan belajarnya ke Madrasah Salafiyah Kauman Surakarta selama dua tahun lebih sedikit dibawah asuhan KH. Dimyathi Abdul Karim. Dan dari madrasah Salafiyah tersebut beliau kembali lagi pulang ke Tremas. Setelah beberapa waktu di Tremas kemudian melanjutkan belajarnya ke Pondok Popongan dibawah asuhan KH. Mansyur, lantas melanjutkan lagi ke Pondok Pesantren Tebuireng Jombang dibawah asuhan KH. Hasyim Asy’ari sampai kemerdekaan tahun 1945. Sepulangnya dari Tebuireng lalu melanjutkan lagi ke Pondok Pesasntren Krapyak Yogyakarta, dan seterusnya ke Pondok Pesantren Sumolangu Kebumen dibawah asuhan KH. Thoifur Abdurrohman. Selama di Yogyakarta beliau masuk menjadi anggota tentara pejuang Hizbulloh dan menjadi anggota BPRI ( Barisan Pemberontak Republik Indonesia ) pimpinan Bung Tomo, berjuang melawan penjajah di Ambarawa dan bermarkas di Magelang.
Pada awal tahun 1948 beliau pulang ke Tremas, tetapi karena pada waktu itu masih dalam situasi yang serba kacau akibat pemberontakan PKI ( Affair Madiun ), maka beliau bersama pamannya, KH. Abdurrozaq dan kawan-kawannya ditahan oleh PKI di Pacitan.Namun berkat datangnya bantuan tentara Siliwangi ke daerah Pacitan akhirnya beliau-beliau dapat diselamatkan dari rencana pembunuhan oleh PKI.
Setelah beberapa bulan di Tremas beliau meneruskan lagi ke Pondok Pesantren Krapyak, sampai akhir tahun 1952 beliau dipanggil pulang ke Tremas untuk menggantikan kakaknya, Kyai Hamid Dimyathi yang terbunuh akibat terjadinya affair Madiun 1948

6. KH. Harist Dimyathi (1948-1994)

Beliau lahir pada tahun 1932 M. Pada masa kecilnya beliau belajar di Pondok Tremas dibawah asuhan para sesepuh pondok. Kemudian pada tahun 1939 melanjutkan belajarnya ke Madrasah Salafiyah Kauman Surakarta dibawah asuhan KH. Dimyathi Abdul Karim sampai kurang lebih tahun 1942 M. Dan semasa pemerintahan penjajah Jepang beliau kembali ke Tremas sampai tahun 1945. Dan kemudian melanjutkan lagi ke Pondok Pesantren Al Munawwir Krapyak Yogyakarta dibawah asuhan KH. Ali Ma’sum.
Tetapi karena situasi kritis yang meliputi Yogyakarta pada waktu itu beliau ikut mengungsi ke daerah Kedung Banteng (masih termasuk wilayah Yogyakarta ) bersama-sama dengan Bapak Mukti Ali ( eks menteri agama RI ), Burhanuddin Harahap dan tokoh-tokoh pejuang lain. Di tempat pengungsian yang cukup lama itu Bapak Mukti Ali dan lainnya berhasil mendirikan sebuah madrasah, dimana untuk beberapa lama KH. Haris Dimyathi ikut menjadi murid, dan kemudian menjadi ustadz sampai kurang lebih tahun 1952. Hingga beberapa waktu kemudian beliau mengikuti jejak kakaknya kembali ke Tremas untuk membina dan membangun kembali Pondok Tremas.
Pada tahun 1945 Bapak Darul Khoiri bin Abdurrozaq ( nama panggilan pak Ndari ) yang selama kevakuman Pondok tremas menjadi pimpinan Madrasah Salafiyah menyerahkan kepemimpinannya kepada KH. Haris Dimyathi
Perlu diketahui bahwa KH Haris Dimyathi ini pernah menjadi menantunya pendiri organisasi Nahdlatul ‘Ulama, saat meningkah dengan Nyai Fatimah binti KH. Hasyim Asy’ari dari Tebuireng, namun sayang pernikahan itu tidak berlangsung lama

7. KH. Hasyim Ihsan

Beliau dilahirkan pada bulan Juli 1912 M. Semasa kecilnya belajar di Tremas sendiri dibawah asuhan para sesepuh, antara lain mBah Nyai Abdulloh serta pada KH. Dimyathi. Pada tahun 1928 meneruskan belajarnya di Pondok Pesantren Al Hidayah Lasem dibawah asuhan KH. Ma’sum bersama-sama dengan Kyai Hamid Dimyathi.
Setelah beberapa tahun kemudian, beliau kembali ke Tremas dan diminta membantu mengajar di Pondok Tremas, tetapi satu tahun kemudian beliau meneruskan belajarnya ke Pondok Lasem lagi dibawah asuhan Kyai Kholil, hingga pada tahun 1934 kembali ke Tremas dan mengajar bersama-sama ustadz lain.
Pada tahun 1948 sampai 1950 beliau menjadi penerangan Agama Islam di Tegalombo, selanjutnya dipindah ke daerah Arjosari. Dan akhirnya mengajar kembali di Pondok Tremas

8. KH. Fuad Habib Dimyathi & KH.Luqman Harist  (1997 – sekarang)

Setelah wafatnya KH Haris Dimyathi, KH Habib Dimyathi dan KH Hasyim Ihsan, management Pondok Tremas masih seperti periode sebelumnya yakni adanya job deskripsi diantara putra-putra beliau. KH Fuad Habib Dimyathi (putra KH Habib Dimyathi) sebagai Pimpinan Umum Perguruan Islam Pondok Tremas, KH Luqman Hakim (putra KH Haris Dimyathi) sebagai Ketua Majlis Ma’arif, KH Mahrus Hasyim yang setelah wafatnya dilanjutkan KH Ashif Hasyim (putra KH Hasyim Ihsan) sebagai figur yang berkompeten dalam bidang sosial spiritual.
Sebagai Public figure yang masih relative muda, Gus Fuad dan Gus Luqman memiliki spirit dan motivasi yang responsif demi kemajuan dan perkembangan Pondok Tremas. Langkah pertama yang mengawali periode ini adalah pembenahan sarana fisik berupa renovasi Masjid Pondok Tremas. Langkah ini dinilai sangat relevan karena masjid merupakan sentral aktivitas komunitas pesantren bahkan masyarakat desa Tremas. Pembangunan masjid yang menghabiskan dana sekitar Rp 2,5 M ini dimulai pada tahun 1998 dan akhirnya selesai sekaligus diresmikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudoyono dalam even Reuni Nasional II pada tahun 2006.
Berikutnya pembangunan infrastruktur yang lain ikut menyusul seperti pembangunan madrasah sekitar masjid, asrama santri, pavingisasi, laboratorium computer & bahasa, pengembangan koprasi santri, ruang diklat dan lain sebagainya yang menunjang pendidikan dan pengajaran santri.

Disamping pembangunan fisik pondok, langkah strategis lainnya yaitu revisi kurikulum yang relevan dengan perkembangan zaman yang sangat dinamis sebagai upaya menjaga kualitas santri yang sedang menempuh pendidikan, lebih-lebih santri yang telah selesai studinya. Dan yang tak kalah pentingnya adalah Realisasi status “Pesantren Mu’adalah” yang diperoleh Pondok Tremas berdasarkan SK DIRJEN Pendidikan Islam Nomor: DJ.II/DT.II.II/507/2006. Adapun kwantitas santri relatif satabil pada kisaran 2.000-an. Sehingga dapat dikategorikan bahwa periode ini dalam fase “Menuju Masa Keemasan III”.

PENDIDIKAN

Saat ini di Pondok Tremas Pacitan telah berdiri beberapa unit pendidikan dari mulai tingkat dasar hingga perguruan tinggi, unit pendidikan tersebut dikelola oleh Majelis Ma’arif.

1. TK Attarmasi

Jenjang pendidikan dua Tahun yang diperuntukkan bagi anak-anak usia kecil, TK Attarmasi terdiri dari dua kelas, kelas TK Kecil dan TK Besar

2. TPA Attarmasi

3. Madin Attarmasi

4. Madrasah Tsanawiyah Salafiyah

5. MTs Pondok Tremas

6. Madrasah Aliyah Salafiyah Mu’adalah

Ijazah MA Mu’adalah Telah mendapatkan Persamaan ( Mu’adalah ) dari pemerintah berdasarkan SK DIRJEN Pendidikan Islam Nomor: DJ.II/DT.II.II/507/2006. sehingga alumni MA Mu’adalah Pondok Tremas dapat melanjutkan pendidikan ke PTAI/PTAIN.

7. Ma’had ‘Aly Al Tarmasi

Adalah lembaga pendidikan khas pesantren setingkat perguruan tinggi yang fokus mendalami ilmu agama atau kitab-kitab klasik ( tafaqquh Fiddin), Didirikan pada tanggal 21 Sya’ban 1428 H dan diresmikan oleh Bapak Drs.Lukman Edy ( Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal RI ) Ma’had Aly Al Tarmasi didirikan dalam rangka menyiapkan kader-kader ulama’ yang Ahli Fiqih dan menguasai ilmu teknologi. Ma’had Aly membuka program studi Konsentrasi Fiqih dan Ushul Fiqih dengan jenjag pendidikan selama 4 tahun, lulusan Ma’had Aly Al Tarmasi bergelar Sarjana strata satu.( S.Pd.I)

8. Lembaga Vokasional

Lembaga ini adalah lembaga pendidikan termuda di Pondok Tremas, diresmikan pada tanggal 18 Februari 2012 oleh Direktur PD Pontren Kemenag RI, Lembaga Vokasional Pondok Tremas adalah Pilot Project atau percontohan pendidikan Vokasi dari Kementrian Agama RI. saat ini lembaga vokasional membuka 4(Empat ) Program Studi : Teknologi Informatika, Teknik Otomotif ( Kerjasama Dengan PT ASTRA), Kerajinan batu Mulia dan Tata Boga. Lembaga ini diperuntukkan bagi santri Pondok Tremas yang telah lullus dari tingkat Madrasah Aliyah.

ORGANISASI

Selain mendapatkan pendidikan tentang ilmu agama, para santri Pondok Tremas juga dibekali dengan ilmu Organisasi, dimana setiap santri diwajibkan mengikuti organisasi yang ada di pondok sesuai dengan jenjang dan kelas masing-masing sebagai bekal nanti ketika telah terjun di tengah-tengah masyarakat.
ORGANISASI MADRASAH :
a.    Panitia Hari Besar Islam ( PHBI )
b.    Bahtsul Masa’il Kubro ( BMK)
c.    Perpustakaan Attarmasi
d.    Tazayyun
e.    Jami’atul Qurro’ Wal Huffadz (JQH)
f.    Adzkar ( Seni Kaligrafi)
g.    GARNISI ( Sanggar Seni Attarmasi)
h.    Pramuka Fata Al Muntadlor
i.    SAPALA ( Santri Pecinta Alam)
j.    Attarmasi Englis Course
k.    PORMAS ( Persatuan Olahraga Pondok Tremas)
l.    Comunity Acces Point ( Kursus Komputer )
m.    Bela Diri
n.    BEM ( Badan Eksekutif Mahasantri)
ORGANISASI DAERAH
a.    IPPAPONMAS ( Ikatan Pelajar Pacitan Pondok Tremas )
b.    SOSAREMA ( Solidaritas Santri Attarmasi Madiun)
c.    GASPAKARI ( Gabungan Santri Attarmasi Kediri )
d.    ISAKAS ( Ikasatan santri Surabaya)
e.    Ikatan Santri Banyuwangi
f.    ROTASIYOGA ( Ikatan santri Yogyakarta)
g.    IKSADARI ( Ikatan Santri Daerah Wonogiri )
h.    IKASANDA ( Ikatan Santri daerah Surakarta)
i.    IKSAP ( Ikatan Santri Purwodadi-Jepara)
j.    KESAS ( Keluarga Santri Salatiga)
k.    IKSAS ( Ikatan Santri Daerah Semarang )
l.    KESIP ( Keluarga Santri Indonesia Pekalongan )
m.    RIM  Tegal- Pemalang
n.    HISBAN ( Himpunan Santri Daerah Banyumas)
o.    IKSAPAS ( Ikatan santri Pasundan –Jawa Barat)
p.    IKSATA ( Ikatan santri Attarmasi  Jakarta)
q.    HIPRIA ( Himpunan Raden Intan Lampung)
r.    IKSARI ( Ikatan santri Attarmasi Riau)
s.    IKSALUJA ( Ikatan Santri luar Jawa)

TRADISI

Setiap komunitas pastilah akan menghasilkan sebuah tradisi yang berbeda-beda.begitu pula  dengan komunittas mas santri dan mbak banat di Perguruan Islam Pondok Tremas Pacitan yang sudah eksis sejak ratusan tahun yang silam,diantara tradisi itu adalah :

1.Ijtima’
Adalah kegiatan kumpul bareng seluruh santri di serambi masjid yang selalu dilakukan setiap akan ada even –even besar seperti imtihan,haflah,akhir tahun,atau acara-acara insidentil lain yang bersifat mendadak dengan tanda yang khas yaitu suara bel yang dipukul panjang bertalu-talu.
2. Nahun
Nahun yang disebut juga tirakat atau lelakon pertama kali dilakaukan oleh santrinya simbah guru dimyathi dimana pada saat itu perkembangan pondok sangat pesat sehingga banyak santri yang datang menuntut ilmu dari berbagai penjuru nusantara,dan bahkan ada yang dating dari Negara tetangga.dengan letak pondok yang jauh dari kampong halaman mereka waktu itu,sementara alat transportasi juga belum ada sama sekali kecuali gerobak dan sejenisnya,dilakukanlah nahun dalam arti hakiki yaitu tekun belajar dan tidak keluar dari komplek pondok dalam jangka waktu 3 tahun ataupun 3 bulan dan 3 hari.mengenai jangka waktu pelaksanaan nahun sebenarnya tidak ada patokanya dan hanyalah istilah,bahkan pondok pun tidak mengatur tentang hal ini.

Ada sebuah kisah yang melatar belakangi tradisi ini adalah ketika suatu hari simbah guru putrid (Nyai khotijah isteri KH.Dimyathi) yang sedang melakukan tirakat(puasa)selama 3 tahun,3 bulan dan 3 hari,mengalami hal yang sangat aneh yaitu saat beliau mencuci beras untuk dimasak di sebelah sumur(sekarang terletak ditengah-tengah madrasah depan masjid) tiba –tiba beras tersebut berubah menjadi emas,mah guru putri pun kaget seraya berdo’a”yaa..Allah,saya bertirakat bukanlah untuk mengharapkan emas atau harta benda dunia,akan tetapi saya memohon kepada-MU ya Allah,jadikanlah Tremas ini bagian dari masyarakat ,jadikanlah keluarga termasuk Ahlul’ilmi dan jadikanlah santri-santri yang menuntut ilmu disini menjadi santri yang barokah”( au kama qol) seraya membuang emas tersebut kedalam sumur.

Setelah kejadian itu banyka santri yang melakukan nahun sebagai bentuk tirakat agar kegiatan belajarnya dipondok tremas senantiasa lancer dan berhasil mencapai tujuannya hatta setelah terjun di masyarakat kelak.namun dari sekian banyak sejarah haun,yang paling hebat adalah para masyayikh tremas selama menjalani masa belajar di Pondok Tremas dahulu seperti KH.Harist Dimyathi,bayangkan ,beliau ini tinggal di asrama pondok dan sama sekali tidak pulang ke ndalem( rumah kyai) selama 3 tahun 3 bulan 3 hari,padahal ndalemnya selalu kelihatan setiap hari karena jarak antara asrama dan ndalemnya hanya 50 meter….!!!???
Sesuai perkembangan zaman ,tradisi ini tetap ditiru oleh generasi selanjutnya meskipun dengan versi yang berbeda-beda.sekarang ini versi nahun yang berlaku dikalngan santri Pondok Tremas ada 3 yaitu :
1.Tidak keluar dari komplek Pondok Tremas
2.Tidak keluar dari wilayah kabupaten pacitan
3.tidak pulang kerumahnya.
Yang berlaku umum di kalangan santri Pondok Tremas sekarang ini adalah nahun sesuai kategori ke-2 dan ke-3 dengan waktu minimal 3 tahun,dan kebanyakan mereka yang melakukan berasal dari luar jawa.

3. Ziaroh
sebagaimana yang terjadi seluruh belahan dunia, ziaroh adalah salah satu wujud ta’dzim (hormat) kepada para Mu’assis (pendiri) pondok Tremas yang dilakukan oleh para santri setiap ba’da ashar ke Maqbaroh Gunung Lembu yang terletak sekitar 350 meter dari komplek pondok dan Maqbaroh Semanten yang terletak di sebuah bukit desa Semanten (dipinggiran kota Pacitan) pada setiap hari Kamis dan Jum’at. Namun begitu di Pondok Tremas ada satu tradisi unik yang sudah berjalan sejak ratusan tahun yang lalu, yaitu setiap santri baru “diusahakan” dapat routin berziarah ke Maqbaroh Gunung Lembu selama 41 hari berturut-turut tanpa putus. suatu kegiatan yang kelihatannya ringan dan gampang, namun pada prakteknya sangat sulit untuk mencapai target sempurna dari tradisi ini, ada saja kendalanya, seperti hujan, ketiduran, dan sebagainya. Seirama dengan itu adalagi tradisi yang juga sudah mengakar di Pondok Tremas yaitu bagi santri baru -sekali lagi- “diusahakan” untuk tidak tidur siang selama 1 minggu penuh terhitung sejak hari pertama kedatangannya di Pondok Tremas. Hal yang kelihatannya sepele ini juga sangat sulit dilakukan, ndelalah para santri baru ini selalu mendapat cobaan dan godaan yang berupa ngantuk berat. Untuk itu para santri senior biasanya akan dengan senang hati membantu dengan selalu mengingatkan dan bahkan menunggui atau mengajaknya jalan-jalan keliling kampung agar tidak tertidur Pada dasarnya tradisi ini tidak ada dasar hukumnya sama sekaliapalagi peraturan tertulis dari pengurus pondok untuk mewajibkannya, dicari dalilnya juga ndak bakalan ketemu, namun bila kita cermati lebih jauh tradisi ini adalah suatu tes mental yang amat dalam ma’nanya untuk menguji sejauh mana kesungguhan dan ketekunan santri Pondok Tremas itu sendiri

4. Ngendil Berjamaah
inilah tradisi favorit santri Tremas setiap menyambut acara seremonial tertentu di Pondok Tremas. ujudnya bisa bermacam-macam, tergantung oleh situasi dan kondisi acaranya tersebut, ada yang perkelompok, asrama, kelas, dan lain sebagainya dengan beragam bentuk dan kepentingannya, bahkan puncaknya pada malam 1 Suro atau akhir tahun acara ini diselenggarakan secara bersama-sama di komplek pondok oleh seluruh santri putra dan putri, dengan media yang sangat sederhana yaitu pelepah daun pisang hingga membuat komplek pondok Tremas persis seperti dapur umum

5. Ngipah
Ngipah atau ngirit pajekan dalam bahasa resmi pondok disebut diafah sudah berlangsung sejak dulu kala di Pondok Tremas. orang yang pertama kali memberi nama atau sebutan ngipah adalah KH. Imron Rosyadi dari Bangil Pasuruan. Ketika masih mondok di Tremas, beliau dikenal sebagai santri yang sangat humoris, dan dari kehumorisan beliaulah sebutan ngipa atau ngipah menjadi tradisi yang masih berlangsung di Pondok Tremas hingga kini
Meski terlihat serupa namun sebenarnya sejarah ngipa dan dliyafah itu tidaklah sama. Istilah ngipa yang digunakan para santri sejak dulu itu muncul karena pada hari-hari besar Islam, para santri mendapatkan makanan gratis tanpa harus mengambil jatah dari pajekannya (tempat kost makan). Sedangkan diyafah adalah yang berasal dari bahasa arabyang dimunculkan oleh keluarga ndalem yang berarti penjamuan atau penghormatan

Pada zaman dahulu, pelaksanaan ngipa atau dliyafah menjadi tanggung jawab PHBI. Namun karena semakin hari jumlah santri Tremas terus bertambah, dan dana PHBI tidak mencukupi lagi untuk melaksanakan tradisi itu, maka pelaksanaannya di ambil alih oleh keluarga ndalem dan dilaksanakan setiap khaul yang dimulai pada khaulnya mbah Kyai Dimyathi sekitar 68 tahun yang lalu
Pada saat ini sebutan ngipah telah meluas, tidak hanya terbatas makan gratis pada saat khaul yang berlangsung setahun sekali saja, tetapi juga digunakan untuk menyebut kegiatan makan gratis secara menyeluruh, kapanpun, dimanapun dan diselenggarakan oleh siapapun

PENDAFTARAN

1.    PROSEDUR PENDAFTARAN
a.    Mendaftarkan diri ditempat pendaftaran bersama orang tua/ wali
b.    Mengisi formulir pendaftaran
c.    Menyerahkan Fhotocopy STTB atau Ijazah terakhir
d.    Menyerahkan Photo 3X4 sebanyak satu lembar
e.    Orang tua atau wali menyerahkan bimbingan kepada Pimpinan Pesantren dan Ketua Majlis Ma’arif Perguruan Islam Pondok Tremas Pacitan
f.    Membayar administrasi pendaftaran
( Pendaftaran dibuka selama 1( satu ) tahun pelajaran
2.    WAKTU DAN TEMPAT PENDAFTARAN
a.    Tempat pendaftaran di Kantor Sekretariat Perguruan Islam Pondok Tremas Pacitan Jl. Patrem No.21 Tremas Arjosari Pacitan Jawa Timur
b.    Waktu pendaftaran :
–    Pagi           : Pukul 08.00 – 11.00
–    Malam        : Pukul 20.00 – 21.00
3.    UJIAN PENEMPATAN KELAS
Bagi santri baru Perguruan Islam Pondok Tremas Pacitan diberi kesempatan mengikuti ujian penempatan kelas dengan ketentuan Sebagai berikut :
a.    Mendaftar sebelum tanggal 10 Muharram
b.    Memiliki bekal ilmu pengetahuan keagamaan dasar, meliputi :Al-Qur’an , Tajwid, Nahwu, Shorof , Fiqih, Bahasa Arav dan Imla’.
c.    Membayar administrasi Ujian Rp.30.000
d.    Bagi yang belum memenuhi syarat akan ditempatkan berdasarkan kualifikasinya ( kelas Isti’dat untuk lulusan SD/MI dan kelas Mumtaz untuk Lulusan MTs/SMP)

4. BIAYA PENDAFTARAN SANTRI BARU

a. Madrasah Sobahi Putra ( Mukim di asrama ) : Rp. 568.000

b. Madrasah Sobahi Putra ( Non Asrama )        : Rp. 528.500

c. Madrasah Masa’i Putri                                 : Rp. 528.500

d. Madrasah Masa’i Putra ( Mukin Di Asrama )   : Rp. 568.000

e. Madrasah Masa’i Putri                                  : Rp. 528.500

f. Ma’had Aly Al Tarmasi                                   : Rp. 200.000

5. KEBUTUHAN POKOK SANTRI PERBULAN

a. Kost makan 3 X sehari           : Rp. 135.000

b. Syahriah/ SPP Pondok           : Rp. 45.000

c. Dana Asrama                         : Rp. 3500

d. Dana Ma’hadiyah                    : Rp.9000

Jumlah Total Satu Bulan              : Rp.192.500

 

KEPENGURUSAN

NO

NAMA

ALAMAT

KH. Fu’ad Habib Dimyathi

Pacitan

KH. Luqman Haris Dimyathi

Pacitan

KH Hammad Haris Dimyathi

Pacitan

H. Rotal

Pacitan

H. Muhdlor Zainal Ridlo

Pacitan

H. Muhammad Habib, SH

Pacitan

H. Achid Turmudzi

Pacitan

H. Abdillah Nawawie, Lc

Pacitan

Busyro Hawatif

Pacitan

Ahmad Fauzie

Pacitan

H. Ibnu Salam, S.Pd.I

Pacitan

H. Multazam Surur

Pacitan

Drs. H. M. Ashif Hasyim

Pacitan

Waki’ Hasyim, S.Ag.

Pacitan

Dasuki

Pacitan

Ahmad Dahlan

Pacitan

Taufik Thohir

Pacitan

H. Najmi Thohir, S.Pd.I

Pacitan

Sujak Basuni, S.Pd.I

Pacitan

H. Mu’adz Haris dimyathi

Pacitan

Salim, S.Sos

Pacitan

Salim Dk, S.Pd.I

Pacitan

Sunyono, S.Pd.I

Pacitan

Tugimin Utomo, S.Pd.I

Pacitan

Drs. Moh Agus Salim

Pacitan

M. Mu’id, S.Pd.I

Pacitan

H. Amjad Habib, S.Pd.I

Pacitan

Riyanto

Pacitan

Jabir, S.Pd.I

Pacitan

Wakhid Hasyim, S.Pd.I

Pacitan

M. Mu’adzin, S.Pd.I

Pacitan

M. Ihya’uddin, S.Pd.I

Pacitan

M. Anhar, S.Pd.I

Pacitan

Tiyarso Yusuf, S.Pd.I

Pacitan

Ahmad Fatah Yasin, S.Th.I

Banyuwangi

Badrudin, S.Th.I

Batang

Moh. Rofikin, S.Pd.I

Pacitan

Joko Margiyono, S.Th.I

Boyolali

Mukhi Buddin, S.Pd.I

Pacitan

Subekti, S.Pd.I

Salatiga

Ahmad Machfudli, S.Th.I

Demak

Ali Mufron, M.Pd.I

Tegal

Muhammad An-Najih, S.Pd.I

Salatiga

Zaenal Mustaqim, S.Pd.I

Pacitan

M. Mahzum

Pacitan

Rifki Hamiyal Hadi, S.P.

Pacitan

Handoko Budi Utomo, S.Pd.I

Salatiga

M. Ali Yusni , S.Pd.I

Pacitan

Dheni Dwi Atmoko, S.Pd

Pacitan

Yudit Ariyanto, S.Pd

Pacitan

Hasan Halawi, M.Pd

Pacitan

Muhammad Hisyam, S.Pd.I

Purwokerto

Santoso, S.Pd.I

Pacitan

Wardani, S.Pd.I

Bengkalis

Agus Tri Atmojo, S.Pd.I

Pacitan

Abu Khoir, S.Pd.I

Demak

Mahmudi, S.Pd.I

Blitar

Nasrowi, S.Pd.I

Pacitan

Sutarto, S.Pd.I

Grobogan

Mustaufikin,S.H.I

Kendal

Ahmad Shoheh

Demak

Imam Ghozali

Grobogan

Muflihin

Pekalongan

M. Luqman Hakim, S.Pd.I

Pacitan

Ali Mahfudl,MSI

Pacitan

Afifuddin Al-Hadzik, S.Pd.I

Pacitan

Masrukhan, S.Pd.I

Salatiga

Slamet Syukur

Batang

Mustofa

Jambi

A. Badruddin

Pemalang

Dwi Tantra

Wonogiri

Muntako

Purwokerto

Solekhan Abdullah

Pekalongan

Agus Nur Hidayat, S.Pd.I

Boyolali

Jahrudin, S.Pd.I

Tegal

Ahmad Yasin

Pacitan

Ali Munawar

Demak

Miftahuddin

Wonosobo

Syaiful Anwar

Tulung Agung

Yasiruddin

Purwokerto

Hj. Nyai Qibtiyah Habib

Pacitan

Hj. Siti Hajaroh Muhammad, BA

Pacitan

Hj. Widad  Achid, BA

Pacitan

Hj. Siti Sundusin Hammad

Pacitan

Hj. Inayah  Fu’ad

Pacitan

Hj. Jihan Al Hanin Abdillah

Pacitan

Hj. Siti Ummu Aiman Luqman

Pacitan

Hj. Masnu’ah Mahrus

Pacitan

Hj. Azizah Ibnu Salam, BA

Pacitan

Mutriyah Fauzie

Pacitan

Hj. Siti Ni’mah

Pacitan

Halimah Jamal

Pacitan

Miftahul Jannah Waki’

Pacitan

Lulu’ Arifatul Jawad

Pacitan

Ana Suryana Mu’adz

Pacitan

Nur Zaidah Amjad

Pacitan

Siti Romelah, S.Pd

Pacitan

Sri Nuryati, SE

Pacitan

Dra. Suprihatin

Pacitan

Else Wahyuni, S.Pd

Pacitan

Khusnul Khotimah. S.Si

Pacitan

Umi Nashihah, S.Pd

Pacitan

Neneng Khoirunnisa`, S.Pd

Pacitan

Zulfa Nur ‘Aini, S.Pd.I

Pacitan

Yanti Nur Arifah, S.Pd.I

Pacitan

Nafisatin Al-Fafa

Klaten

Umi Salamah

Grobogan

Rima Umaimah, M.Pd.I

Pacitan

Siti Tsuroyah, S.H.I

Purwokerto

Rurik Mardiana

Pacitan

Siti Mashulah

Pacitan

Tri Septiyaningsih

Pekalongan

Fatimatuz  Zahroh

Wonogiri

Khodijatul Kubro

Subang

Riska Ariyanti

Pacitan

Siti Hasanah

Purwokerto

Siti Azizatur Rofiqoh

Purwokerto

Darniti

Pemalang

Khoimatun Yuswah

Tegal

Nur Hidayah

Bengkalis

Nurul Hidayah

Rembang

Zuni Rara Handayani

Grobogan

TREMAS TV

Kenali Pondok Tremas dengan seluruh aktifitasnya

selamat menyaksikan Profil Perguruan Islam Pondok Tremas Pacitan

kerjasama Pondok Tremas dengan Kemendikbud RI dan Zoom In Film Workshop

Facebook Comments

3 COMMENTS

  1. Saya tinggal di tangerang selatan asal dari pati jateng,anak saya baru mau naik kelas4,bisa ga di pindahkan ke sana.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here