Modus Penipuan Tenaga Kerja yang Unik

0
96

Seminggu lalu saya menerima SMS dari seseorang yang saya tidak kenal. Sebut saja namanya Mbak Sri (samaran). Mbak Sri dan suaminya diuber-uber banyak orang yang sudah membayar untuk mendapat pekerjaan. Uang sudah ditransfer, panggilan kerja tidak kunjung datang.

Penasaran dengan cerita tersebut, saya pun menelepon Mbak Sri untuk menggali kisahnya lebih dalam. Ternyata, Mbak Sri dan suaminya merupakan korban dari mafia penipu calon pekerja.

Kisah penipuan itu bermula dari panggilan wawancara yang diterima Mbak Sri dari sebuah perusahaan dengan nama asing (bahasa China). Pimpinannya juga berbahasa China, dengan dibantu seorang penerjemah Indonesia saat wawancara.

Intinya, perusahaan itu akan menerima Mbak Sri sebagai manager HRD di perusahaan tersebut dengan gaji yang bagus dan fasilitas yang oke. Syaratnya, Mbak Sri harus bisa merekrut minimal 200 orang calon karyawan yang akan ditraining sebagai pekerja pabrik pengecoran logam di Banten yang akan segera beroperasi.

Mbak Sri dan suaminya segera bekerja. Banyak teman-temannya yang belum bekerja dipanggil untuk memanfaatkan peluang. Singkat kata, 200 orang itu akhirnya diperoleh.

Tahap selanjutnya adalah persiapan training karyawan. Karena bidang pekerjaannya spesifik, calon karyawan harus membayar biaya training dasar.

Calon karyawan setuju. Apalagi nilainya “hanya” Rp 0,5 juta per orang. Nilai segitu dianggap tidak mahal, untuk “mimpi” punya pekerjaan.

Setelah calon karyawan mentransfer uang, Mbak Sri dan suaminya yang kelimpungan. Pasalnya, si boss perusahaannya tiba-tiba tidak bisa dihubungi. Nomor teleponnya tidak aktif. Ruangannya pun kosong melompong.

Hari berganti minggu. Minggu berganti bulan. Si bos tak pernah menunjukkan batang hidungnya. Ratusan calon karyawan pun menguber-uber Mbak Sri dan suaminya minta pengembalian uang training yang sudah ditranser.

“Bagaimana saya bisa membayar? Saya sendiri belum gajian. Kan saya kerja belum genap sebulan, si boss sudah kabur?” keluh Mbak Sri.

Begitulah warna-warni kehidupan. Kepada Mbak Sri, saya memberi saran untuk melaporkan masalahnya ke kepolisian.(jto)