Pelajaran Dari Sang Penjual Pecel

0
20

Selalu ada kisah dibalik kunjungan kerja bupati Indartato keberbagai desa diwilayah Kabupaten Pacitan. Tidak hanya unik dan menarik namun kisah kisah tersebut syarat pesan.

“Saya dulu pernah hampir seharian berjalan kaki dari Petungsinarang menuju Bandar”, tutur Indartato memulai ceritanya dihadapan warga dan tokoh masyarakat Desa Petungsinarang, Senin (24/11).

Demikian bupati Indartato mengawali kisahnya disela rangkaian agenda Tilik Warga diwilayah Kecamatan Bandar. Di Kecamatan dengan potensi agropolitan itu, rangkaian nostalgia seakan kembali terurai kala sang pemimpin menginjakkan kaki di Desa Petungsinarang.

Bukan asal cerita, kisah ini bermula saat Indartato masih menjadi PNS di era bupati Soedjito ditahun 1998 an. Kala itu Indartato berkesempatan mengikuti agenda kerja bupati ke wilayah Bandar. Rombongan bupati terpaksa melalui jalur Nawangan karena jalur Grenjeng-Bandar waktu itu belum sempurna untuk kendaraan.

“Waktu itu pak Djito (bupati) dawuh bagaimana caranya jalur Grenjeng dapat mudah dilalui kendaraan agar cepat sampai Bandar”, kenang Indartato.

Dari “dawuh” bupati tersebut bupati Indartato nekat melakukan ekspedisi kecil melalui jalur Grenjeng menuju Bandar. Dan benar saja, sulitnya medan membuat perjalanan berlangsung hampir seharian. Saat melintas di Desa Petungsinarang Indartato dan seorang rekan istirahat diwarung kecil penjual dawet dan lonthong pecel. Dari percakapan singkat dengan pemilik warung tersebut ada pelajaran luar biasa yang menurut Indartato sangat mulia.

Kala itu bupati Indartato menyampaikan wacana pembangunan jalan Grenjeng- Bandar yang kemungkinan akan menggusur mata pencahariannya. Tak disangka jawaban pemilik warung sungguh bijak dan membuatnya terkesima.

“Mboten nopo nopo penting anak putu kulo saget kepenak (tidak apa apa yang penting anak cucu saya dapat menikmatinya)”, kisahnya.

Sayang, bupati Indartato lupa menanyakan nama dan alamat si pemilik warung. Dan terbukti, ketika jalur Grenjeng dapat mudah dilalui kendaraan semua dapat terakses dengan cepat dan mudah. Mungkin, si embah penjual cendol dan pecel tidak sempat ikut menikmati tapi untuk generasi berikutnya dapat merasakan kemudahan itu.

“Ada pelajaran berharga dari kisah ini. Bahwa membangun tidak bisa serta merta dan grusa grusu tapi harus ada perencanaan dan tahapan”, kata bupati mengakhiri kisahnya.

Bupati Indartato memulai Agenda Tilik Warga diwilayah Kecamatan Bandar dari Desa Petungsinarang berlanjut ke Desa Ngunut, Bandar dan Desa Kledung. Dalam kesempatan itu bupati juga berpamitan kepada masyarakat karena masa pengabdianya sebagai bupati akan segera berakhir. Tidak lupa Dia meminta maaf jika selama kepemimpinannya masih banyak kekurangan.

Selain bersama isteri turut mendampingi bupati Sekda dan isteri, Asisten 1, Kepala Dinas PMD, Kepala Dinas Pendidikan,Inspektur, Kepala Dinas Dukcapil,Dinas PUPR,Dinas Perumahan,Kawasan Permukimn dan Pertanahan, Bappeda dan Camat setempat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.